Pancasila Tak Akan Selesai
Pre-OrderGudang Pengiriman
Spesifikasi
Detail Produk
Sinopsis
Apa jadinya jika ketidakselesaian justru adalah kekuatan terbesar sebuah bangsa?
Selama ini Pancasila kerap diperlakukan sebagai monumen—dasar negara yang telah selesai dirumuskan, disahkan, dan tinggal dihafalkan. Buku ini menantang anggapan itu. Kusubandio mengajak kita menyelami satu tesis berani: Pancasila bukan bangunan yang telah rampung, melainkan proyek peradaban yang terus bergerak—dan justru dari ketidakselesaian itulah ia memperoleh daya hidupnya.
Melalui kerangka Teori Kecerdasan yang dikembangkan penulis—membedakan Kecerdasan Fungsional (sistem, kekuasaan, prosedur) dari Kecerdasan Potensial (nilai, nurani, kebijaksanaan)—buku ini menelusuri akar Pancasila jauh ke dalam rahim peradaban Nusantara: dari kebijaksanaan Bhinneka Tunggal Ika Empu Tantular hingga arsitektur kepemimpinan Gajah Mada; dari kejayaan dan keruntuhan Sriwijaya-Majapahit hingga luka kolektif Post-Colonial and Political Trauma Syndrome yang masih membekas pascakemerdekaan; dari krisis disinformasi di era simulacra hingga tawaran konkret bagi pendidikan, tata kelola negara kepulauan, kepemimpinan, dan lompatan peradaban melalui Iptek Spiritualistis.
Ditulis dengan keberanian membedah sejarah tanpa romantisisme dan mengevaluasi kebijakan kontemporer tanpa basa-basi—termasuk pembacaan kritis atas amandemen UUD 1945 dan tantangan nyata menuju Indonesia Emas 2045—buku ini bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan undangan untuk bertindak: bagi siapa pun yang percaya bahwa menjadi bangsa yang matang berarti berani terus bertanya, bukan berhenti pada jawaban yang telah usang.
